Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Cerita Ngewe Susan Yang Menawan dan Sange 2

Cerita Ngewe Susan Yang Menawan dan Sange 2

  Iklans.com - Untuk lebih mengakrabkan hubungan kerja di kantor, teman-teman kantor

mengadakan acara pergi bersama ke tempat santai, yaitu di daerah pegunungan yang berhawa

dingin. Semua teman-teman kantor pada ikut, tidak terkecuali Dia.

Namun aturannya, bahwa semua karyawan dan karyawati harus ikut dan tidak

boleh bawa pacar, biar lebih bebas (pada saat itu kami semua belum berkeluarga,

kecuali Dia tentunya). Hanya Dia saja yang diperkecualikan untuk

membawa keluarga (dalam hati aku sangat kecewa, karena tidak bisa bebas

mendekati Dia, karena takut ada suaminya).

Pada hari Jum’at sore, setelah selesai tutup kantor, kita semua sudah berkumpul

di kantor untuk berangkat ke Puncak. Semua yang berangkat ada 17 orang

cowok-cewek termasuk aku, dan Dia bersama suaminya dengan membawa

2 anak kecil, yang ternyata keponakan Dia. Dalam hatiku kejengkelan

bertumpuk, karena Dia sudah bawa suami, tambah keponakan lagi, wuaahh

repot, pikirku saat itu. Untuk membawa ke Puncak, sudah dipersiapkan tiga mobil Panther yang dipakai

oleh karyawan dan satu Kijang yang dipakai oleh keluarga Dia, masing-masing

mobil sudah disediakan supir.

“Kalau 3 mobil nggak cukup, satu orang boleh dech ikut saya, atau biar Dik Uki saja yang ikut mobil saya”, kata Dia kepada teman-teman, matanya sambil melihatku.

“Cerdik juga boss yang satu ini”, pikirku, dan sangat halus sekali triknya.

Agar Dia tetap dekat denganku, tapi tidak terlalu mencolok, makanya pura-pura menawarkan tetapi langsung

menutup penawaran kepadaku.

“Ayo siapa yang ikut mobil Dia, biar aku yang di Panther aja”, kataku pura-pura menawarkan kepada teman-teman, karena

aku tahu, pada tidak ada yang berani satu mobil dengan Dia, rata-rata

mereka pada sungkan.

“Udah dech, biar Uki aja yang ikut, sekali-kali kita kerjain, biar tahu rasa, gimana rasanya satu mobil dengan Dia, mungkin sampai di tempatnya UKi sudah tegang nggak bisa bergerak”, kata Nancy temanku

sambil tertawa kecil mau mengerjai aku.

“Ya bener, sampai di tempat aku bisa tegang, tapi bukan tegang karena sungkan, tapi tegang karena nggak

tahan aja berdekatan dengan Dia”, kataku dalam hati, dan yang tegang

hanya tertentu saja, tidak seluruh badan.

“Jangan aku dong, yang cewek aja”, pintaku berpura-pura.

Tapi teman-temanku langsung lari berebut mobil masing-masing, an akhirnya aku jalan juga ke mobil Dia, dan sekali lagi pura-pura mengumpat mereka.

Suami Dia hanya senyum-senyum melihat kelakuan kami. Oh ya, aku belum

kenalin sama suami Dia. Namanya sebut saja Pak Jimmy, orangnya besar,

gagah dan ganteng (kata teman-teman cewek) dan agak pendiam. Wajahnya mirip

dengan Rudi Salam. Pak Jimmy duduk di jok depan dengan supir. Sedangkan Dia, kedua keponakan

yang masih kecil dan aku duduk di jok tengah. Jok belakang penuh dengan

perbekalan. Begitu aku duduk di mobil, pertama yang kulakukan adalah

mempelajari situasi mobil. Posisi kaca spion, dan posisi duduk supir dan posisi duduk

Pak Jimmy. Sekiranya memungkinkan untuk melakukan serangan awal terhadap Dia. Baca selengkapnya!


Cerita Ngentot Susan Yang Menawan dan Montok 1

Cerita Ngentot Susan Yang Menawan dan Montok 1

  Biodataviral.com - Kehidupan itu ada pasang surutnya, ketika saya sedang jaya, saya mempunyai client yang lumayan banyak untuk ukuran AE pemula di sebuah advertising.

Dan dengan ketekunan saya, perusahaan tempat saya bekerja mengalami kemajuan

pesat hingga mencapai Top 5 billing di semua stasiun TV. Dan kemudian bencana datang, Perusahaan tersebut bangkrut karena miss management.

Ditengah kesusahan datanglah tawaran dari Nancy, junior saya yang telah

pindah ke Gokil Advertising, dan mengenalkan saya dengan Ibu Susan, pemilik

perusahaan tersebut. Ibu Susan dipertengahan abad usianya, masih mempunyai tubuh yang terawat

dengan baik, body-nya tidak kalah dengan gadis-gadis yang masih muda yang

menjadi anak buahnya di Gokil Advertising.

Karena prestasi kerja saya yang baik, kami sering mengadakan meeting after

hours, dan progress kerja saya yang baik, membuat kami cukup akrab..tapi

pada suatu malam ada kejadian yang benar-benar mengubah hidup saya! Begini

anak-anak ceritanya..

Suatu malam, ketika karyawan lain telah pulang, Saya tengah memaparkarkan pendekatan saya terhadap satu perusahaan rokok

terkemuka, dan kemudian tiba-tiba Ibu Susan berkata,

“Waduh, kog punggungku gatal ya?”

Saya masih berusaha menahan diri untuk tidak terlalu cepat menolongnya,

takut nanti dianggap kurang ajar!

Semakin lama gatalnya sepertinya semakin bertambah,

“Tolong Dik Uki, bisa garuki punggung Ibu?”

Saya mengangguk dan berusaha membuang pikiran kotor saya, yang ingin sekali

rasanya mengetahui lebih dalam bentuk tubuh boss yang cantik dan keturunan

bangsawan ini..

Saya garuk pelan-pelan, tapi lebih tepatnya hanya mengusap-usap punggungnya

saja, takut kalau Ibu Susan kesakitan.

“Dik Uki, agak keras dikit, masih gatal lho Dik”, pinta Ibu Susan.

Dan saya agak sedikit memantapkan tangan saya dipungungnya.

“Dik Uki, masih belum terasa, sebentar saya buka dulu blazer saya.”

Dia langsung membuka blazernya, sehingga tinggalblouse-nya yang putih

dan transparan. Waduh semakin tidak tahan nih saya, karena kulit tengkuknya

yang mulus dengan sedikit rambut lembut yang tergerai di tengkuknya (Dia kalau ke kantor

selalu rambutnya disanggul di atas), semakin menambah feminin, dan semakin

membikin saya langsung terangsang.

Saya menggaruknya tetap tidak mau keras dan masih cenderung mengusap atau

membelai punggungnya, karena saya menikmati kehalusan kulit seorang bangsawan

yang berada dibalik bajunya yang tipis. Saya usap seluruh punggungnya dengan

pelan, ke atas dan ke bawah, ke kiri dan ke kanan, terkadang tangan saya,

saya telusupkan di bawah ketiaknya, untuk menggapai payudara yang di depan.

Dia menengadahkan kepalanya, dan menggeleng-gelengkan kepalanya ke

kiri dan ke kanan, sambil suaranya mendesah,

“Uuhh enak Dik Uki.. enaakk..uuhh..”

Mendengar desahannya yang merangsang, rudalku langsung tegak bak tugu Monas. Baca selengkapnya!


Cerita Dewasa Main Masuk Lobang Mbak Sum 2

Cerita Dewasa Main Masuk Lobang Mbak Sum 2

  Iklans.com - “Gimana, Mbak.. sudah siap kuperawani?” tanganku menjangkau CD-nya dan hendak melepasnya.

“Jangan, Mas. Kalau hamil gimana?”

“Ya ditunggu saja sampai lahir to, Mbak..” gurauku sambil berusaha menarik lepas CD-nya.

Mbak Sum berusaha memegangi CD-nya tapi seranganku di bagian atas tubuhnya membuatnya geli dan tangannya jadi lengah. Cd-nya pun merosot melewati pantatnya.

“Kalau hamil, siapa yang ngurus bayinya?”

“Ya, Mbak lah, kan itu anakmu.. tugasku kan cuma bikin anak, bukan ngurusi anak..” godaku terus.

“Dasar, mau enaknya sendiri..” Mbak Sum memukulku pelan, tangannya berusaha menjangkau CD dari bawah pahanya tapi kalah cepat dengan gerakanku melepas CD itu dari kakinya. Buru-buru kukangkangkan pahanya lalu kubenamkan lidahku ke situ. Slep.. slep.. slep.. Mbak Sum melenguh dan menggeliat lagi sambil meremasi kepalaku. Nampak dia berada dalam kenikmatan. Beberapa menit kemudian, aku memutar posisi tubuhku sampai batang zakarku tepat di mulutnya sementara lidahku tetap beroperasi di vulvanya. Dengan agak canggung-canggung dia mulai menjilati, mengulum dan menghisapnya. Vulvanya mulai basah, zakarku menegang panjang. Eksplorasi dengan lidah kuteruskan sementara tanganku memijit-mijit sekitar selangkangan hingga anusnya.

“Agh.. agh.. Maas.. ak.. aku..”

Mbak Sum tak mampu bersuara lagi, hanya pantatnya terasa kejang berkejat-kejat dan mengalirlah cairan maninya mengaliri mulutku. Kugelegak sampai habis cairan bening itu.

“Isap anuku lebih keras, Mbak!” perintahku ketika kurasakan maniku juga sudah di ujung zakar.

Dan benar saja, begitu diisap lebih keras sebentar kemudian spermaku menyembur masuk ke kerongkongan Mbak Sum yang buru-buru melepasnya sampai mulutnya tersedak berlepotan sperma. Kami pun terjelepak kelelahan. Kuputar tubuhku lagi dan malam itu kami tidur telanjang berpelukan untuk pertama kalinya. Tapi zakarku tetap tidak memerawani vaginanya. Aku masih ingin menyimpan “makanan terenak” itu berlama-lama.

Selanjutnya kegiatan oral seks jadi kegemaran kami setiap hari. Entah pagi, siang maupun malam bila salah satu dari kami (biasanya aku yang berinisiatif) ingin bersetubuh ya langsung saja tancap. Entah itu di kamar, sambil mandi bersama atau bergulingan di permadani. Tiap hari kami mandi keramas dan entah berapa banyak bercak mani di permadani. Selama itu aku masih bertahan dan paling banter hanya memasukkan kepala zakarku ke vaginanya lalu kutarik lagi. Batangnya tidak sampai masuk meski kadang Mbak Sum sudah ingin sekali dan menekan-nekan pantatku. “Kok nggak jadi masuk, Mas?” tanyanya suatu hari.

“Apa Mbak siap hamil?” balikku.

“Kan aku bisa minum pil kabe to Mas..”

“Bener nih Mbak rela?” jawabku menggodanya sambil memasukkan lagi kepala zakarku ke memeknya yang sudah basah kuyup.

“Heeh, Mas,” dia mengangguk.

“Mbak nggak merasa bersalah sama suami?”

“Kan sudah meninggal, Mas.”

“Sama anak-anak?”

Ia terdiam sesaat, lalu jawabnya lirih, “A.a.. aku kan juga masih butuh seks, Mas..”

“Mana yang Mbak butuhkan, seks atau suami?” tanyaku terus ingin tahu isi hatinya.

Kuangkat lagi kepala zakarku dari mulut memeknya lalu kusisipkan saja di sela-sela pahanya. Baca selengkapnya!


Cerita Sex Main Masuk Lobang Mbak Sum 1

Cerita Sex Main Masuk Lobang Mbak Sum 1

  Tradingan.com - Umurku baru 28 tahun ketika diangkat jadi manager area sebuah perusahaan consumer goods. Aku ditempatkan di Semarang dan diberi fasilitas rumah kontrakan tipe 45. Setelah 2-3 minggu tinggal sendirian di rumah itu lama-lama aku merasa capai juga karena harus melakukan pekerjaan rumah tangga seperti nyapu, ngepel, cuci pakaian, cuci perabot, bersih-bersih rumah tiap hari. Akhirnya kuputuskan cari pembantu rumah tangga yang kugaji sendiri daripada aku sakit. Lewat sebuah biro tenaga kerja, sore itu datanglah seorang wanita sekitar 35 tahunan, Sumiyati namanya, berasal dari Wonogiri dan sudah punya dua anak yang tinggal bersama ortunya di desa.

“Anaknya ditinggal dengan neneknya tidak apa-apa, Mbak?” tanyaku.

“Tidak, pak. Mereka kan sudah besar-besar, sudah SMP dan SD kelas 6,” jawabnya.

“Lalu suami Mbak Sum dimana?”

“Sudah meninggal tiga tahun lalu karena tbc, pak.”

“Ooo.. pernah kerja di mana saja, Mbak?”

“Ikut rumah tangga, tapi berhenti karena saya tidak kuat harus kerja terus dari pagi sampai malam, maklum keluarga itu anaknya banyak dan masih kecil-kecil.. Kalau di sini kan katanya hanya bapak sendiri yang tinggal, jadi pekerjaannya tidak berat sekali.”

Dengan janji akan kucoba dulu selama sebulan, jadilah Mbak Sum mulai kerja hari itu juga dan tinggal bersamaku. Dia kuberi satu kamar, karena memang rumahku hanya punya dua kamar. Tugas rutinnya, kalau pagi sebelum aku ke kantor membersihkan kamarku dan menyiapkan sarapanku. Setelah aku ke kantor barulah ruangan lain, nyuci, belanja, masak dst. Dia kubuatkan kunci duplikat untuk keluar masuk rumah dan pagar depan. Setelah seminggu tinggal bersama, kami bertambah akrab. Kalau di rumah dan tidak ada tamu dia kusuruh memanggilku “Mas” bukan “bapak” karena usianya tua dia. Beruntung dia jujur dan pintar masak sehingga setiap pagi dan malam hari aku dapat makan di rumah, tidak seperti dulu selalu jajan ke luar. Waktu makan malam Mbak Sum biasanya juga kuajak makan semeja denganku. Biasanya, selesai cuci piring dia nonton TV. Duduk di permadani yang kugelar di depan pesawat. Kalau tidak ada kerjaan yang harus dilembur aku pun ikut nonton TV. Aku suka nonton TV sambil tiduran di permadani, sampai-sampai ketiduran dan seringkali dibangunkan Mbak Sum supaya pindah ke kamar.

Suhu udara Semarang yang tinggi sering membuat libidoku jadi cepat tinggi juga. Lebih lagi hanya tinggal berdua dengan Mbak Sum dan setiap hari menatap liku-liku tubuh semoknya, terutama kalau dia pakai daster di atas paha. (Kalau digambarkan bodynya sih mirip-mirip Yenny Farida waktu jadi artis dulu). Maka lalu kupikir-pikir rencana terbaik untuk bisa mendekap tubuhnya. Bisa saja sih aku tembak langsung memperkosanya toh dia nggak bakal melawan majikan, tapi aku bukan orang jenis itu. Menikmatinya perlahan-lahan tentu lebih memberi kepuasan daripada langsung tembak dan cuma dapat nikmat sesaat.

“Mbak Sum bisa mijit nggak?” tanyaku ketika suatu malam kami nonton TV bareng.

Dia duduk dan aku tiduran di permadani.

“Kalau asal-asalan sih bisa, Mas,” jawabnya lugu.

“Nggak apa-apa, Mbak. Ini lho, punggungku kaku banget.. Seharian duduk terus sampai nggak sempat makan siang. “Tolong dipijat ya, Mbak..” sambil aku tengkurap.

Mbak Sum pun bersimpuh di sebelahku. Tangannya mulai memijat punggungku tapi matanya tetap mengikuti sinetron di TV. Uuhh.. nikmatnya disentuh wanita ini. Mata kupejamkan, menikmati. Saat itu aku sengaja tidak pakai CD (celana dalam) dan hanya pakai celana olahraga longgar.

“Mijatnya sampai kaki ya, Mbak,” pintaku ketika layar TV menayangkan iklan.

“Ya, Mas,” lalu pijatan Mbak Sum mulai menuruni pinggangku, terus ke pantat.

“Tekan lebih keras, Mbak,” pintaku lagi dan Mbak Sum pun menekan pantatku lebih keras.

Penisku jadi tergencet ke permadani, nikmat, greng dan semakin.. berkembang. Aku tak tahu apakah Mbak Sum merasakan kalau aku tak pakai CD atau tidak. Tangannya terus meluncur ke pahaku, betis hingga telapak kaki. Cukup lama juga, hampir 30 menit. Baca selengkapnya!


Viral! Aku Nyaris Jadi Gigolo Karena Istri Sange 2

Viral! Aku Nyaris Jadi Gigolo Karena Istri Sange 2

 Aopok.com - “Tunggu dulu! Aku sedang menunggu seseorang, bisa kan sabar sebentar?” kata Riva sambil lagi-lagi ia melongok keluar seolah-olah menanti seseorang. Sejak beberapa saat yang lalu, Riva memang terlihat agak gelisah, ia berulang kali menelepon dan keluar masuk ruangan.

Akhirnya menjelang jam tiga, aku baru tahu siapa yang ditunggu oleh Riva. Orang itu ternyata adalah seorang lelaki dewasa berusia sekitar 35 tahunan, Riva memperkenalkannya pada kami sebagai rekan bisnis Papanya yang mempunyai art shop di daerah Bedugul. Namanya sebut saja Om Richard.


Sekalipun usianya cukup jauh di atas kami ternyata Om Richard orangnya asyik juga, malahan sore itu ia tak hanya bicara bisnis saja dengan Riva melainkan ia juga sempat mengobrol dengan kami bertiga tentang banyak hal, masa remajanya bahkan sampai tentang film-film Hollywood yang baru dirilis. Penampilannya juga terkesan funky untuk orang-orang seusianya yang hampir menginjak kepala empat.

“Kalian mau mampir ke tempat Om di Baturiti?” ajak Om Richard kemudian di akhir obrolan kami sore itu. Kebetulan, arah perjalanan pulang dari Bedugul melewati desa Baturiti seperti yang disebutkan om Richard. Jadi, kami bertiga pun setuju untuk mampir sebentar di rumah om Richard. Om Richard dengan mobilnya berjalan lebih dahulu, sementara kami bertiga menyusul di belakangnya.

“Gila, suka ngebut juga tuh om!” ujar Riva ketika mobilnya jauh tertinggal di belakang Om Richard.

Beberapa saat kemudian, kami tiba juga di rumah yang diakui sebagai rumah om Richard. Atau lebih tepatnya bukan rumah tinggal, melainkan sebuah rumah peristirahatan atau yang biasa disebut villa, karena om Richard dan keluarganya juga tinggal di Denpasar. Lokasinya memang tidak di pinggir jalan besar, melainkan masih harus masuk melewati perkampungan dan menempuh jarak selama kurang lebih 20 menit perjalanan dari jalan raya. Tempatnya sangat sunyi dan seandainya hari tidak berkabut, pastilah dari tempat itu bisa dinikmati pemandangan barisan pegunungan yang sangat indah.



“Berapa beli villa ini, om?” tanya Mario penasaran setelah kami memasuki bangunan mungil yang asri dan nyaman itu.

“Delapan ratus! Kebetulan dulunya villa ini punya temen om sendiri, orang bule!”

Om Richard mengantar kami mengelilingi setiap sudut rumah itu sampai ke pekarangan belakang dimana terdapat taman yang tertata rapi dan sebuah kolam renang. Sesudah itu, ia menyuruh kami duduk di ruang tengah sambil memutarkan sebuah laserdisc untuk kami. Lanjut baca!


Viral! Aku Nyaris Jadi Gigolo Karena Istri Sange 1

Viral! Aku Nyaris Jadi Gigolo Karena Istri Sange 1

 Tradingan.com - Nyaris binasa..! Yah, barangkali kalimat itulah yang bisa menggambarkan keadaanku setahun silam, atau lebih tepatnya awal bulan Agustus tahun lalu. Aku jelas-jelas belum lupa dan tak akan pernah melupakan kejadian yang hampir menenggelamkanku dalam kehidupan bejat itu. Aku sebenarnya tak tahu bagaimana harus menceritakannya, aku tak pandai bercerita dan disamping itu aku juga bingung harus memulainya dari mana. Tetapi aku akan coba, mungkin tak seindah karya seorang pujangga dan semanis buah tangan seorang penulis, namun aku akan tetap mencobanya.


Dalam batinku, aku rasa kalau aku harus menumpahkannya dalam sebuah tulisan untuk melepaskan sedikit ganjalan di batinku. Penting kuingatkan sebelumnya, bahwa tulisan ini dibuat tanpa bermaksud membawa pikiran pembaca kepada hal-hal negatif dan pornografi. Maafkan aku sebelumnya, jika pikiran anda ternyata tak terkontrol ketika meresapi cerita ini. Sejujurnya, aku dapat katakan disini bahwa dalam tulisan ini tak melulu berisi hal-hal yang negatif dan ilmu anatomi tubuh manusia saja, melainkan lebih lagi menyimpan sebuah pelajaran yang berharga tentang apa yang disebut “Ilmu kehidupan.”

Aku tahu, pasti ada beberapa pembaca yang akan langsung menutup page ini ketika membaca kata-kataku di atas, khususnya para pembaca bernafsu besar yang selalu ingin lebih dan lebih lagi dalam hal-hal seperti itu (kalian tahu sendirilah, maksudnya! Oke?). Tapi tak apalah, aku bisa memakluminya sebagai orang yang pernah mengalami saat-saat dimana pikiran ini seolah-olah hanya dipenuhi oleh sex, sex dan sex. Namun tak lupa juga kuucapkan terima kasih bagi kalian yang berani meluangkan sedikit waktu dan uang untuk membayar biaya warnet hanya demi membaca tulisan singkat yang sedikit acak-acakan ini.

Oke, sebelumnya aku ingin sampaikan sedikit perkenalan. Namaku sebut saja Reino, beberapa hari lagi aku berulang tahun yang kedua puluh satu. Kata orang, umur dua puluh satu adalah titik balik awal kedewasaan seorang laki-laki. Aku lahir dan dibesarkan di suatu kota yang maaf saja tak bisa kusebutkan, sebut saja kota M. Namun, sejak SMU aku tinggal di pulau Dewata, kumpul dengan keluarga om-ku. Jujur saja, sebetulnya awalnya aku merasa terpaksa tinggal bersama keluarga besar om-ku seperti umumnya anak pungut yang lain. Namun, aku harus menjalaninya untuk bisa terus melanjutkan sekolah setelah kedua orang tuaku tak lagi punya pekerjaan tetap.

Tetapi lambat laun, aku mulai bisa menyesuaikan diri dengan tempat tinggal baruku. Apalagi, setelah aku mendapatkan banyak teman dan sahabat baik di kota dimana aku tinggal kini. Dua orang sahabatku yang paling baik adalah Riva dan Mario. Aku dan Mario sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMU kelas dua, karena kebetulan dia adalah salah satu teman sekelasku. Sedangkan, Riva kukenal dari Mario. Kalau mendengar ceritanya, Riva masih memiliki darah turunan Swiss bercampur Bali.



Memang, tampangnya tak mirip orang indonesia atau tampang melayu seperti yang banyak berkeliaran di jalanan. Kulitnya lebih putih dan hidungnya bangir seperti bule. Kalau dibandingkan di antara kami bertiga, memang Riva-lah yang paling cute dengan tampang indonya itu. Mario pun sebenarnya juga tampan, meski kulitnya agak sedikit gosong, but he is black sweet! Sedangkan aku, bagaimana yah? aku tak bisa mendeskripsikan diriku sendiri. Tapi yang jelas aku ada keturunan chineese dan berbadan lebih kekar dibandingkan kedua sahabatku agak kerempeng itu, karena kebetulan aku memang sport mania. Lanjut baca!


Kisah Ngewe Anal dan Memek Perawan 5

Kisah Ngewe Anal dan Memek Perawan 5

 Tradingan.com - Laki-laki itu langsung bereaksi, tangan kanannya memegangi bagian bawah payudara gadis tersebut, mulutnya menciumi dan mengisap-isap kedua puting itu secara bergantian. Mulanya buah dada Shanti yang sebelah kanan menjadi sasaran mulutnya. Buah dada Shanti yang kecil mungil itu hampir masuk semuanya ke dalam mulut Rahman yang mulai mengisap-isapnya dengan lahap. Lidahnya bermain-main pada puting buah dada Shanti yang segera bereaksi menjadi keras. Terasa sesak napas Shanti menerima permainan Rahman yang lihai itu. Badan Shanti terasa makin lemas dan dari mulutnya terus terdengar erangan,

“Sssshhh…, ssssshh…, aahhhh…, aaaahhhh…, ssshhhhh…, sssshhhh…, aduh Mbak aku engga kuat, ssshhh….., enaak….. Oom”, mulut Rahman terus berpindah-pindah dari buah dada yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan menjilat-jilat kedua puting buah dadanya secara bergantian. Badan Shanti benar-benar telah lemas menerima perlakuan ini. Matanya terpejam pasrah dan kedua putingnya telah benar-benar mengeras.


Sementara itu Tuti terus bermain-main di paha Shanti yang mulus itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas dan, tiba-tiba jarinya menyentuh bibir kemaluan Shanti. Segera badan Shanti tersentak dan, “Aaaaaahhhhh…, oooohhhh….., Mbaaak…….!”, mula-mula hanya ujung jari telunjuk Tuti yang mengelus-elus bibir kemaluannya. Muka Shanti yang ayu terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkan giginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar.

Kedua tangan Tuti memegang kedua kaki gadis itu, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahanya lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkangan Shanti yang telah terbuka itu. Nafas perempuan itu terdengar mendengus-dengus memburu. Shanti merasakan badannya amat lemas serta panas dan perasaannya sendiri mulai diliputi oleh suatu sensasi yang mengila, apalagi melihat tubuh Rahman yang besar berbulu dengan kemaluannya yang hitam, besar yang pada ujung kepalanya membulat mengkilat dengan pangkalnya yang ditumbuhi rambut yang hitam lebat terletak diantara kedua paha yang hitam gempal itu.

Sambil memegang kedua paha Shanti dan merentangkannya lebar-lebar, Tuti membenamkan kepalanya di antara kedua paha Shanti. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluan gadis belia tersebut yang yang masih rapat, tertutup rambut halus dan tipis itu. Shanti hanya bisa memejamkan mata, “Ooohhhhh…, nikmatnya…, ooohhhh!”, Shanti menguman dalam hati, sampai-sampai tubuhnya bergerak menggelinjang-gelinjang kegelian. “Ooooohhhh…, hhhmmm!”, terdengar rintihan halus, memelas keluar dari mulutnya.

“Mbaaakk……, aku tak tahan lagi…….!”, Shanti memelas sambil menggigit bibir.
Sungguh Shanti tidak bisa menahan lagi, dia telah diliputi nafsu birahi, perasaan nikmat yang melanda di sekujur tubuhnya akibat serangan-serangan mematikan yang dilancarkan Tuti dan Rahman yang telah bepengalaman itu. Namun rupanya mereka berdua itu tidak perduli dengan keadaan Shanti yang telah orgasme beberapa kali itu, bahkan mereka terlihat amat senang melihat Shanti mengalami hal itu. Tangannya yang melingkari kedua pantat Shanti, kini dijulurkan ke atas, menjalar melalui perut ke arah dada dan mengelus-elus serta meremas-remas kedua payudara Shanti dengan sangat bernafsu. Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Rahman dan Tuti ini, Shanti benar-benar sangat kewalahan dan kamaluannya telah sangat basah kuyup. “Mbaakk……, aaakkhh…, aaaakkkhhhh!”, Shanti mengerang halus, kedua pahanya yang jenjang mulus menjepit kepala Tuti untuk melampiaskan derita birahi yang menyerangnya, dijambaknya rambut Tuti keras-keras. Gadis ayu yang lemah lembut ini benar-benar telah ditaklukan oleh permainan Tuti dan laki-laki setengah baya yang dapat sangat membangkitkan gairahnya.

Tiba-tiba Tuti melepaskan diri, kemudian bangkit di depan Shanti yang masih tertidur di tepi ranjang, ditariknya Shanti dari atas ranjang dan kemudian Rahman disuruhnya duduk ditepi ranjang. Kemudian kedua tangan Tuti menekan bahu Shanti ke bawah, sehingga sekarang posisi Shanti berjongkok di antara kedua kaki berbulu lelaki tersebut dan kepalanya tepat sejajar dengan bagian bawah perutnya. Shanti sudah tahu apa yang diinginkan kedua orang tersebut, namun tanpa sempat berpikir lagi, tangan Rahman telah meraih belakang kepalanya dan dibawa mendekati kontol laki-laki tersebut. 

Tanpa melawan sedikitpun Shanti memasukkan kepala penis Rahman ke dalam mulutnya sehingga kontol tersebut terjepit di antara kedua bibir mungil Shanti, yang dengan terpaksa dicobanya membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu Shanti mulai mengulum alat vital Rahman dalam mulutnya, hingga membuat lelaki itu merem melek keenakan. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Shanti yang kecil, itupun sudah terasa penuh benar. Shanti hampir sesak nafas dibuatnya. Kelihatan ia bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutnya. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidah Shanti menyapu kepalanya. Sementara itu Tuti sibuk menjilati buah peler laki-laki tersebut. Kadang lidahnya menyapu anus suaminya itu. Wajib baca!


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia